Senin, 04 Maret 2013

KTI Askep Hipertensi


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Hipertensi merupakan kelainan pada sistem kardiovaskuler yang masih menjadi beban kesehatan di masyarakat global karena pravalensinya yang tinggi. Data dari The National Heart and Nutrition Examination Survey (NHNES) dalam dua dekade terakhir menunjukkan peningkatan insiden hipertensi pada orang dewasa di Amerika sebesar 29-31%. Hipertensi dikenal sebagai salah satu penyebab utama kematian di Amerika Serikat (Yogiantoro,2006).
Hipertensi dipengaruhi oleh curah jantung dan tekanan perifer. Berbagai faktor yang mempengaruhi curah jantung dan tekanan perifer dapat mempengaruhi tekanan darah seperti asupan garam yang tinggi, faktor genetik, stres, obesitas, jenis kelamin, usia, dan kebiasaan merokok. Mekanisme terjadinya hipertensi yaitu melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I converting enzyme (ACE). (Mang trie kaccau, 2012).
Data World Health Organization (WHO) tahun 2008 menunjukkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang atau 26,4% penghuni bumi mengidap hipertensi dengan perbandingan 26,6% pria dan 26,1% wanita. Di Indonesia Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992 mendapatkan bahwa penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian kedua (16,6 per 1000 kematian), dan pada SKRT 1995 prevalensi hipertensi adalah 83 % per 1000 anggota rumah tangga. Ini lebih banyak perempuan dari pada pria dan menjadi penyebab pertama kematian di Indonesia (Utama, 2008).
Di Indonesia, sampai saat ini memang belum ada data yang bersifat nasional, multisenter, yang dapat menggambarkan prevelensi lengkap mengenai hipertensi. Namun beberapa sumber, yakni Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, prevalensi hipertensi di Indonesia pada orang yang berusia di atas 35 tahun adalah lebih dari 15,6%. Survei faktor resiko penyakit kardiovaskular (PKV) oleh proyek WHO di Jakarta, menunjukkan angka prevalensi hipertensi dengan tekanan darah 160/90 masing-masing pada pria adalah 13,6% (1988), 16,5% (1993), dan 12,1% (2000). Pada wanita, angka prevalensi mencapai 16% (1988), 17% (1993), dan 12,2% (2000). Secara umum, prevalensi hipertensi pada usia lebih dari 50 tahun berkisar antara 15%-20% (Depkes, 2010).
Dari data dinas kesehatan provinsi sulawesi tengah pada tahun 2010,  di Sulawesi Tengah hipertensi menduduki urutan ke tiga dari 10 kasus rawat inap di rumah sakit yaitu sebanyak 424 kasus (9,10%) dan urutan ke empat dalam 10 penyebab kematian yaitu 10,99% (Profil Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah, 2011). Berdasarkan data dinas kabupaten banggai dari 10 provinsi di Indonesia tahun 2006 bahwa penyakit hipertensi (38,8%). (Profil Dinkes Kabupaten Banggai, 2008)
Dari data Badan Rumah Sakit Daerah Luwuk Ruang Anggrek pada bulan Februari 2012 terdapat 29 kasus, bulan Maret 31 kasus, bulan April 26 kasus, bulan Mei 24 kasus, bulan Juni 20 kasus, dan bulan juli 11 kasus, total kasus hipertensi di ruang Anggrek BRSD Luwuk sejak bulan Februari 2012 sampai dengan Juli 2012 yaitu sebanyak 141 kasus.
Dampak penyakit hipertensi berkembang dari tahun ke tahun dan membuahkan banyak komplikasi. Hipertensi adalah faktor resiko utama pada penyakit jantung, serebral (otak), renal (ginjal), dan vas-kular (pembuluh darah) dengan komplikasi berupa ’’infark miokard’’ (serangan jantung), gagal jantung, stroke (serangan otak), gagal ginjal dan penyakit vaskular perifer. Selain itu, tekanan darah tinggi juga berpengaruh terhadap pembuluh darah koroner di jantung berupa terbentuknya plak (timbunan) aterosklerosis yang dapat mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah dan menghasilkan serangan jantung (heart attack) (Djoko Merdikoputro, 2011).
Angka mordibitas pasien hipertensi terus meningkat dari tahun ketahun. Karena begitu besarnya kasus hipertensi, dalam menanganinya tidak hanya intervensi medis yang perlu dilakukan, akan tetapi intervensi keperawatan dengan penerapan asuhan keperawatan pada hipertensi yang bertujuan menurukan tekanan darah dan pemeliharaan tekanan pada tingkat normal sehingga dapat menurunkan angka modibitas. Hal ini termasuk program pemeliharaan kesehatan pada hipertensi, pembatasan diet yang ketat disamping intervensi farmakologi dengan diuretik atau obat anti hipertensi (Zukhair & Ali, 2008).
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskukler HIPERTENSI ” di Ruangan Anggrek Badan Rumah Sakit Daerah Luwuk.


B.       Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah merujuk pada permasalahan di atas yakni: “bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem kardiovaskuler “hipertensi” di Ruangan Anggrek Badan Rumah Sakit Daerah Luwuk ?
C.   Tujuan Penelitian
1.       Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan menerapkan penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan kardiovaskuler “hipertensi” di Ruangan Anggrek Badan Rumah Sakit Daerah Luwuk tahun 2012.
2.       Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan karya tulis ini supaya penulis mampu :
a.         Untuk mengetahui konsep dasar hipertensi.
b.         Untuk mengetahui cara mengumpulkan, mengkaji dan menganalisa data-data klien.
c.         Untuk mengetahui cara menentukan diagnosa keperawatan dan memprioritaskan masalah sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia pada klien hipertensi.
d.        Untuk mengetahui cara menentukan rencana tindakan keperawatan pada klien dengan hipertensi.
e.         Untuk mengetahui cara mengimplementasikan rencana tindakan keperawatan yang telah disusun dalam bentuk pelaksanaan tindakan keperawatan yang telah ditetapkan.
f.          Untuk mengetahui cara mengevaluasi hasil tindakan yang telah ditetapkan pada klien dengan hipertensi.
g.         Untuk mengetahui cara pendokumentasian.
C.    Manfaat Penelitian
1.         Manfaat Teoritis
       Proposal ini di harapkan dapat memberikan informasi mengenai Hipertensi pada  masyarakat umum sehingga masyarakat dapat lebih waspada terhadap penyebab dan faktor resiko yang berhubungan dengan penyakit ini sehingga dapat mencegah terjadinya Hipertensi.
2.         Manfaat praktis
a.     Bagi Perawat atau Profesi
Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan khususnya tenaga perawat  dalam rangka meningkatkan mutu pemberian asuhan keperawatan.
b.    Bagi instansi Pendidikan
Sebagai bahan acuan bagi pengembangan kurikulum pendidikan kesehatan agar pendidikan senantiasa peka terhadap kenyataan yang ada di lapangan.



c.    Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi pengalaman yang berharga bagi peneliti khususnya dalam meningkatkan wawasan dalam bidang penelitian.
E.   METODE PENULISAN DAN PENGUMPULAN DATA
Adapun metode penulisan yang digunakan oleh penulis yaitu :
1.       Observasi
Mengobservasi tanda dan gejala yang dialami klien dan observasi keberhasilan standard asuhan keperawatan yang diberikan.
2.       Wawancara
Pengkajian dalam rangka pengumpulan data dilakukan terhadap klien, keluarga, serta perawat ruangan.
3.       Studi kasus
Melakukan asuhan keperawatan secara langsung pada seorang klien dengan dengan gangguan sistem kardiovaskuler “hipertensi” di ruangan Anggrek Badan Rumah Sakit Daerah Luwuk.
4.       Studi perpustakaan
Dengan mempelajari beberapa buku yang berhubungan dengan hipertensi termasuk bahan – bahan perkuliahan agar makalah ini mempunyai nilai ilmiah untuk dipertahankan.
Cara yang digunakan dalam pengumpulan data yaitu anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan dokumentasi.






F.    LOKASI DAN WAKTU
Tempat penelitian dilakukan di ruang perawatan Anggrek Badan Rumah Sakit Daerah Luwuk Kabupaten Banggai, dimulai pada tanggal 04 september - 16 september 2012.



















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      TINJAUAN TEORI MEDIS
1.             Definisi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolic 90 mmHg atau lebih (Barbara Hearrison).
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolic 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, ).
Hipertensi adalah tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya. Mempunyai rentang dari tekanan darah normal tinggi sampai hipertensi maligna (Doengoes, 2000 : 39).
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi atau istilah kedokteran menjelaskan hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi gangguan pada mekanisme pengaturan tekanan darah (Mansjoer,2000 : 144)
2.             Anatomi
a.       Jantung
Jantung berukuran sekitar satu kepalan tangan dan terletak didalam dada, batas kanannya terdapat pada sternum kanan dan apeksnya pada ruang intercostalis kelima kiri pada linea midclavicular. Pada bagian atas jantung berhubungan dengan pembuluh darah besar, bagian bawah berhubungan dengan diafragma, pada setiap sisi berhubungan dengan paru, dan bagian belakang berhubungan dengan aorta desendens, esophagus. (Gibson, John. 2002).
b.      Arteri
Arteri adalah tabung yang dilalui darah yang dialirkan pada jaringadan organ. Arteri terdiri dari lapisan dalam: lapisan yang licin, lapisan tengah jaringan elastin/otot: aorta dan cabang-cabangnya besar memiliki laposan tengah yang terdiri dari jaringan elastin (untuk menghantarkan darah untuk organ), arteri yang lebih kecil memiliki lapisan tengah otot (mengatur jumlah darah yang disampaikan pada suatu organ). (Gibson, John. 2000).
c.       Arteriol
Arteriol adalah pembuluh darah dengan dinding otot polos yang relatif tebal. Otot dinding arteriol dapat berkontraksi. Kontraksi menyebabkan kontriksi diameter pembuluh darah. Bila kontriksi bersifat lokal, suplai darah pada jaringan/organ berkurang. Bila terdapat kontriksi umum, tekanan darah akan meningkat. (Gibson, John. 2002).
d.      Vena dan Venul
Venul adalah vena kecil yang dibentuk gabungan kapiler. Vena dibentuk oleh gabungan venul. Vena memiliki tiga dinding yang tidak berbatasan secara sempurna satu sama lain.
(Gibson, John. 2002).
3.             Etiologi/Penyebab
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi ( Lany Gunawan, 2001 )
a.    Genetik: Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport  Na.
b.    Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan tekanan darah meningkat.
c.    Stres karena lingkungan.
d.   Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterisklerosis pada orang tua serta pelebaran pembuluh darah.
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu hipertensi primer yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, dan hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain ( Lany Gunawan, 2001 ).
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :



a.            Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
b.      Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur, jenis kelamin, dan ras.
c.      Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah menkonsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr), kegemukan, stress, merokok, dan minum alkohol.
4.             PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mengontrol kontriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak di pusat vasomotor, pada medulla di otak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis keluar dari kolumna medulla spinalis ke ganglia simpatisdi toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai ketakutan dan kecemasan dapat mempengaruhi respons pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstroktor. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (Smeltzer, Bare, 2002).
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respon rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstroksi. Medula adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang menyebabkan penurunan aliran darah ke ginjal, mengakibatkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan keadaan hipertensi (Brunner & Suddarth, 2002)
5.             MANIFESTASI KLINIS
Peninggian tekanan darah kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdengung, rasa berat di tengkuk, sukar tidur, mata berkunang-kunang, dan pusing (Mansjoer, 2000).
Gejala lain yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing, muka merah, sakit kepala, keluaran darah dari hidung secara tiba-tiba, dan tengkuk terasa pegal (Novianti, 2006).
6.        KLASIFIKASI
Secara klinis derajat hipertensi dapat dikelompokkan sesuai dengan rekomendasi dari “The Sixth Report of The Join National Committee, Prevention, Detection and Treatment of High Blood Pressure “ (JNC – VI, 1997) sebagai berikut :
         Tabel 2.1
               Klasifikasi derajat Hipertensi
No
Kategori
Sistolik(mmHg)
Diastolik(mmHg)
1.
Optimal
<120
<80 span="">
2.
Normal
120 – 129
80 – 84
3.
High Normal
130 – 139
85 – 89
4.
Hipertensi
Grade 1 (ringan)
140 – 159
90 – 99
Grade 2 (sedang)
160 – 179
100 – 109
Grade 3 (berat)
180 – 209
100 – 119
Grade 4 (sangat berat)
>210
>120
    (JNC – VI, 1997)
7.             PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang rutin pada hipertensi bertujuan mendeteksi penyakit yang bisa diobati (biasanya ginjal), dan menilai fungsi jantung serta ginjal. Semua pasien memerlukan pemeriksaan EKG untuk menilai ukuran ventrikel kiri, dan jika abnormal periksa rontgen toraks. Pemeriksaan urinalisis, darah, ureum, dan elektrolit (David rubenstein, 2005).
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan yaitu seperti klirens kreatinin, protein urin 24 jam, asam urat, dan kolesterol LDL (Mansjoer, 2000).  
8.             PENATALAKSANAAN
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pendekatan nonfarmakologis, termasuk penurunan berat badan, pembatasan alcohol, natrium dan tembakau, latihan, olahraga secara teratur, diit dan relaksasi merupakan penatalaksanaan keperawatan wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi antihipertensi (Suryati, dikutip dalam Rogen, 2005, p.33).
Apabila penderita hipertensi ringan berada dalam resiko tinggi (pris, perokok) atau bila tekanan darah diastoliknya menetap, di atas 85 atau 95 mmHg dan sistoliknya di atas 130 sampai 139 mmHg, maka perlu dimulai terapi obat-obatan. Algoritma penanganan yang dikeluarkan oleh Joint National on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure memungkinkan dokter memilih kelompok obat yang mempunyai efektivitas tertinggi, efek samping paling kecil, dan penerimaan serta kepatuhan pasien. Dua kelompok obat tersedia dalam pilihan pertama; diuretik dan penyekat beta. Apabila pasien dengan hipertensi ringan sudah terkontrol selama setahun, terapi dapat diturunkan. Agar pasien mematuhi regimen terapi yang diresepkan, maka harus dicegah dengan pemberian jadwal terapi obat-obatan yang rumit (Suryati, dikutip dalam Rogen, 2005, p.33).
9.             KOMPLIKASI
Beberapa Negara mempunyai pola komplikasi yang berbeda-beda. Di Jepang gangguan serebrovaskular lebih mencolok dibandingkan dengan kelainan organ yang lain, sedangkan di Amerika dan Eropa komplikasi jantung ditemukan lebih banyak. Di Indonesia belum ada data tentang ini, tetapi komplikasi serebrovaskular dan komplikasi jantung sering ditemukan. Pada hipertensi ringan dan sedang komplikasi yang terjadi adalah pada mata, ginjal, jantung dan otak. Pada mata berupa pendarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan (Arjatmo et al., 2001)








B.       TINJAUAN TEORI (Konsep Asuhan Keperawatan)
1.             Pengkajian Keperawatan
a.         Pengertian
Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001)..
b.         Fokus Pengkajian Keperawatan
            Pengkajian keperawatan tidak sama dengan pengkajian medis. Pengkajian medis difokuskan pada keadaan patologis, sedangkan pengkajian keperawatan ditujukan pada respon klien terhadap bebmasalah-masalah kesehatan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Misalnya dapatkah klien melakukan aktivitas sehari-hari, sehingga fokus pengkajian klien adalah respon klien yang nyata maupun potensial terhadap masalah-masalah aktifitas harian (Nursalam, 2001).
c.         Pengumpulan Data
            Pengumpulan data adalah pengumpulan informasi tentang klien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah-masalah, serta kebutuhan-kebutuhan keperawatan dan kesehatan klien.Dari informasi yang terkumpul, didapatkan data dasar tentang masalah-masalah yang dihadapi klien. Selanjutnya data dasar tersebut digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan, merencanakan asuhan keperawatan, serta tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah-masalah klien.Pengumpulan data dimulai sejak klien masuk ke rumah sakit (initial assessment), selama klien dirawat secara terus-menerus (ongoing assessment), serta pengkajian ulang untuk menambah / melengkapi data (re-assessment). (Nursalam, 2001).
1)        Tipe Data
       Tipe data terdiri dari data Subjektif yaitu data yang didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Informasi tersebut tidak bisa ditentukan oleh perawat, mencakup persepsi, perasaan, ide klien tentang status kesehatannya. Misalnya tentang nyeri, perasaan lemah, ketakutan, kecemasan, frustrasi, mual, perasaan malu. Dan data objektif yaitu data yang dapat diobservasi dan diukur, dapat diperoleh menggunakan panca indera (lihat, dengar, cium, raba) selama pemeriksaan fisik. Misalnya frekuensi nadi, pernafasan, tekanan darah, edema, berat badan, tingkat kesadaran (Nursalam, 2001).
2)        Karakteristik Data :
a)             Lengkap
Data yang terkumpul harus lengkap guna membantu mengatasi masalah klien yang adekuat. Misalnya klien tidak mau makan selama 3 hari. Perawat harus mengkaji lebih dalam mengenai masalah klien tersebut dengan menanyakan hal-hal sebagai berikut: apakan tidak mau makan karena tidak ada nafsu makan atau disengaja? Apakah karena adanya perubahan pola makan atau hal-hal yang patologis? Bagaimana respon klien mengapa tidak mau makan. (Nursalam, 2001).
b)             Akurat dan nyata
       Untuk menghindari kesalahan, maka perawat harus berfikir secara akurat dan nyata untuk membuktikan benar tidaknya apa yang didengar, dilihat, diamati dan diukur melalui pemeriksaan ada tidaknya validasi terhadap semua data yang mungkin meragukan. Apabila perawat merasa kurang jelas atau kurang mengerti terhadap data yang telah dikumpulkan, maka perawat harus berkonsultasi dengan perawat yang lebih mengerti. Misalnya, pada observasi : “klien selalu diam dan sering menutup mukanya dengan kedua tangannya. Perawat berusaha mengajak klien berkomunikasi, tetapi klien selalu diam dan tidak menjawab pertanyaan perawat. Selama sehari klien tidak mau makan makanan yang diberikan”, jika keadaan klien tersebut ditulis oleh perawat bahwa klien depresi berat, maka hal itu merupakan perkiraan dari perilaku klien dan bukan data yang aktual. Diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk menetapkan kondisi klien. Dokumentasikan apa adanya sesuai yang ditemukan pada saat pengkajian (Nursalam, 2001).
c)             Relevan
     Pencatatan data yang komprehensif biasanya menyebabkan banyak sekali data yang harus dikumpulkan, sehingga menyita waktu dalam mengidentifikasi. Kondisi seperti ini bisa diantisipasi dengan membuat data komprehensif tapi singkat dan jelas. Dengan mencatat data yang relevan sesuai dengan masalah klien, yang merupakan data fokus terhadap masalah klien dan sesuai dengan situasi khusus (Nursalam, 2001).
3)        Sumber Data
a)             Sumber data primer
       Klien adalah sumber utama data (primer) dan perawat dapat menggali informasi yang sebenarnya mengenai masalah kesehatan klien (Nursalam, 2001).
b)             Sumber data sekunder
     Orang terdekat, informasi dapat diperoleh melalui orang tua, suami atau istri, anak, teman klien, jika klien mengalami gangguan keterbatasan dalam berkomunikasi atau kesadaran yang menurun, misalnya klien bayi atau anak-anak, atau klien dalam kondisi tidak sadar (Nursalam, 2001).
c)             Sumber data lainnya
     Misalnya Catatan medis dan anggota tim kesehatan lainnya, Riwayat penyakit, Konsultasi, Hasil pemeriksaan diagnostik, Perawat lain dan Kepustakaan (Nursalam, 2001).
4)        Metoda Pengumpulan Data
a)             Wawancara
   Wawancara adalah menanyakan atau membuat tanya-jawab yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi oleh klien, biasa juga disebut dengan anamnesa. Wawancara berlangsung untuk menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi klien dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan (Nursalam, 2001).
b)             Observasi
       Observasi adalah mengamati perilaku dan keadaan klien untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatan klien. Observasi dilakukan dengan menggunakan penglihatan dan alat indra lainnya, melalui rabaan, sentuhan dan pendengaran. Tujuan dari observasi adalah mengumpulkan data tentang masalah yang dihadapi klien melalui kepekaan alat panca indra (Nursalam,2001).
c)             Pemeriksaan fisik
    Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi (Nursalam, 2001).
2.       Diagnosa keperawatan
a.     Pengertian
              Diagnosis Keperawatan merupakan keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, dimana berdasarkan pendidikan dan pengalamannya, perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah status kesehatan klien (Carpenito, 2000; Gordon, 1976 & NANDA).
b.         Komponen Diagnosis Keperawatan
Rumusan diagnosis keperawatan mengandung tiga komponen utama, yaitu :
1)  Problem (P/masalah), merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawatan dapat diberikan. Masalah adalah kesenjangan atau penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi (Carpenito, 2000).
2)  Etiologi (E/penyebab), keadaan ini menunjukkan penyebab masalah kesehatan yang memberikan arah terhadap terapi keperawatan Penyebabnya meliputi : perilaku, lingkungan, interaksi antara perilaku dan lingkungan (Carpenito, 2000).
3)    Sign & symptom (S/tanda & gejala), adalah ciri, tanda atau gejala, yang merupakan informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosis keperawatan (Carpenito, 2000).
c.         Kategori Diagnosis Keperawatan
1)   Diagnosis Keperawatan Aktual
Diagnosis keperawatan aktual (NANDA) adalah diagnosis yang menyajikan keadaan klinis yang telah divalidasikan melalui batasan karakteristik mayor yang diidentifikasi (Nursalam, 2001).
2)   Diagnosis Keperawatan Resiko
Diagnosis keperawatan resiko adalah keputusan klinis tentang individu, keluarga atau komunitas yang sangat rentan untuk mengalami masalah dibanding individu atau kelompok lain pada situasi yang sama atau hampir sama (Nursalam, 2001).
3)   Diagnosis Keperawatan Kemungkinan
Merupakan pernyataan tentang masalah yang diduga masih   memerlukan data tambahan dengan harapan masih diperlukan untuk memastikan adanya tanda dan gejala utama adanya faktor resiko (Nursalam, 2001).
4)   Diagnosis Keperawatan Sejahtera
Diagnosis keperawatan sejahtera adalah ketentuan klinis mengenai individu, kelompok, atau masyarakat dalam transisi dari tingkat kesehatan khusus ke tingkat kesehatan yang lebih baik (Nursalam, 2001).
3.      Intervensi Keperawatan
a.     Pengertian
     Apabila rencana keperawatan telah disusun tentulah ada tahap pelaksanaan tindakan keperawatan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal. Pelaksanaan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Nursalam, 2001).
c.     Prinsip-Prinsip Intervensi Keperawatan :
1)        Berdasarkan kepada respon klien.
2)        Berdasarkan penggunaan sumber yang tersedia
3)        Meningkatkan kemampuan merawat diri sendiri dan self reliance.
4)        Sesuai dengan standart praktik keperawatan
5)        Memiliki dasar hukumdan Kerjasama dengan profesi lain
6)        Sesuai dengan tanggung jawab praktek keperawatan
7)        Penekanan pada aspek pencegahan dan peningkatan kesehatan
8)        Menerapkan metode keperawatan yang paling efektif
9)        Mempertimbangkan kebutuhan kesehatan yang esensial
10)    Memperhatikan faktor perubahan lingkungan
11)    Meningkatkan peran serta klien dalam asuhan keperawatan klien.
4.       Implementasi Keperawatan
a.     Pengertian
            Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 2000, dalam Potter & Perry, 2001).
b.`   Hal-hal yang perlu diperhatikan perawat dalam implementasi keperawatan adalah:
Pada tahap persiapan :
1)      Menggali perasaan, analisis kekuatan dan keterbatasan professional pada diri.
2)      Memahami rencana keperawatan secara baik dan efek samping serta komplikasi yang mungkin muncul.
3)      Penampilan harus menyakinkn dan Menguasai keterampilan teknis keperawatan.
4)      Memahami rasional ilmiah dari tindakan yang akan dilakukan dan Mengetahui sumber daya yang diperlukan.
5)      Memahami kode etik dan aspek hukum yang berlaku dalam pelayanan keperawatan
6)      Memahami standar praktik klinik keperawatan untuk mengukur keberhasilan.
5.       Evaluasi Keperawatan
a.     Pengertian
       Evaluasi keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai tindakan keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan (Nursalam, 2001).
b.    Tujuan dari evaluasi antara lain :
1)        Untuk menentukan perkembangan kesehatan klien.
2)        Untuk menilai efektifitas, efisiensi, dan produktifitas dari tindakan yang diberikan.
3)        Untuk menilai pelaksanaan asuhan keperawatan dan Mendapatkan umpan balik.
4)        Sebagai tanggung jawab/tanggunggugat dalam pelaksanaan pelayanan keperawatan.

C.           PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI SECARA TEORI
          1.    Pengkajian Keperawatan
Meliputi identitas pasien : Umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku dan lain-lain.


a.         Riwayat Kesehatan :
1)   Keluhan Utama      
pasien hipertensi biasanya ia merasa sakit kepala.
2)   Riwayat penyakit sekarang
Klien dibawa ke rumah sakit kepala dan tegang pada bagian  leher.
3)   Riwayat penyakit dahulu
riwayat hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes melitus.
4)   Riwayat penyakit keluarga
pada klien hipertensi biasa terdapat anggota keluarga yang mengidap juga (bersifat menurun).
b.    Pengkajian dasar menurut Marilynn et al., (2000):
1)   Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan : pada klien hipertensi terdapat juga kebiasaan untuk merokok, minum alcohol dan penggunaan obat-obatan.
2)   Aktivitas/ Istirahat
Gejala  : kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda  : Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea.
3)   Sirkulasi
Gejala : Riwayat Hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan penyakit cebrocaskuler, episode palpitasi.
Tanda : Kenaikan TD, Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis,radialis, tikikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis,kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokontriksi perifer) pengisian kapiler mungkin lambat/ bertunda.
4)   Integritas Ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, factor stress multiple (hubungan, keuangan, yang berkaitan dengan pekerjaan.
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan continue perhatian,tangisan meledak, otot muka tegang, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara.
5)   Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau (seperti obstruksi atau riwayat penyakit ginjal pada masa yang lalu).
6)    Makanan/cairan
Gejala : Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam, lemak serta kolesterol, mual, muntah dan perubahan BB akhir akhir ini(meningkat/turun) Riowayat penggunaan diuretic.
Tanda : Berat badan normal atau obesitas,, adanya edema, glikosuria.

7)   Neurosensori
Gejala : Keluhan pening pening/pusing, berdenyu, sakit kepala, gangguan penglihatan (diplobia, penglihatan kabur, epistakis).
Tanda  : Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara.
8)   Nyeri/ ketidaknyaman
Gejala : Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung), sakit kepala.
9)   Pernafasan
Gejala : Dispnea yang berkaitan dari ativitas/kerja, takipnea, ortopnea, dispnea, batuk dengan/tanpa pembentukan sputum, riwayat merokok.
Tanda : Distress pernafasan/penggunaan otot aksesori    pernafasan bunyi nafas tambahan (krakties/mengi), sianosis.





Gambar 2.1 Penyimpangan Konsep Dasar Manusia

  Umur
Jenis kelamin
Gaya hidup
Asuhan gizi lebih
 


Elastisitas  meningkat ,
arteriosklerosis
                                  
 


vasokontriksi
                                                 
hipertensi
Pembuluh darah
jantung
otak
 




       Sindrom multiple
Curah jantung menurun
sirkulasi serebral   
    terganggu
vasokontriksi
                 krisis situasional
Tekanan vaskular di otak meningkata
 
Ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan jaringan
 

Afterload meningkat
                           
Koping individu inefektif
fatique
Nyeri kepala
Penurunan curah jantung
Intoleransi aktifitas

                                                                                                                                   

2.             DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang muncul berdasarkan penyimpangan Konsep Dasar Manusia (KDM) yaitu :
a.    Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikular
b.    Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
c.    Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
d.   Koping individual inefektif berhubungan dengan metode koping tidak efektif.
3.             INTERVENSI KEPERAWATAN
a.              Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikular Tujuan : tidak terjadi penurunan curah jantung
Kriteria hasil : berpartisipasi dalam aktivitas menurunkan tekanan darah dan mempertahankan tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima.
Intervensi Mandiri :
1)            Observasi tekanan darah
Rasional : Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/ bidang masalah vaskuler.
2)            Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan ferifer.
Rasional : (Denyutan karotis, jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati/ palpasi. Denyutan pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena).
3)            Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas.
Rasional : S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertropi atrium, perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan kerusakan fungsi, adanya krakels, mengi dapat  mengindikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik.
4)            Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler.
Rasional : Warna pucat, dingin,kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mencerminkan dekompensasi/ penurunan curah jantung.
5)            Catat adanya edema umum/ tertentu.
Rasional : Dapat mengidentifikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler.
6)            Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas/ keributan lingkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.
Rasional     : Membantu untuk menurunkan ransangan simpatis, meningkatkan relasasi.
7)            Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi.
Rasional     : Dapat menurunkan ransangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah.
Intervensi Kolaboratif :
1)            Berikan terapi antihipertensi, diuretik.
Rasional : menurunkan tekanan darah.
2)            Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi.
Rasional : dapat menangani retensi cairan dengan respon hipertensif, dengan demikian menurunkan beban kerja jantung.
b.             Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
Tujuan : Tekanan Vaskuler serebral tidak meningkat
Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala atau sakit kepala terkontrol.


Intervensi Mandiri:
1)            Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan
Rasional : Stres mental/ emosi meningkatkan kerja miokard.
2)            Minimalkan ganguan lingkungan dan ransangan
Rasional : lingkungan yang tidak nyaman dapat menyebabkan stres mental/ emosi
3)            Hindari merokok atau penggunaan nikotin
Rasional : Efek nikotin adalah stimulasi saraf simpatis dan pelepasan katekolamin yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah.
4)            Beri tidakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala misalnya kompres dingin.
Rasional : Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan memperlambat atau memblok respon simpatis, efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya
Intervensi Kolaboratif:
1)            Berikan obat sesuai indikasi : analgesik, antiansietas (lorazepam, ativan, diazepam, valium)
Rasional : Menurunkan atau mengontrol nyeri dan menurunkan    rangsang sistim saraf simpatis.
c.              Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan insufisiensi oksigen sekunder akibat penurunan curah jantung ditandai dengan kelelahan dan kelemahan.
Tujuan : Aktifitas pasien terpenuhi
Riteria hasil : Klien dapat berpartisipasi dalam aktifitas yang di inginkan/ diperlukan melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
Intervensi Mandiri:
1)            Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatian frekuensi nadi lebih dari 20 kali per menit di atas frekuensi istirahat peningkatan tekanan darah yang nyata selama/ sesudah aktivitas(tekanan sistolik meningkat 40 mmHg atau tekanan diastolik meningkat 20 mmHg); dispnea atau nyeri dada; keletihan dan kelemahan yang berlebihan; diaforesis; pusing atau pingsan.
Rasional : Menyebut parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologis terhadap stres aktivitas dan bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
2)            Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi misalnya menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir rambut, melakukan aktivitas dengan perlahan.
Rasional :        Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
3)            Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas/ perawatan diri berharap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasional : kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
d.             Koping individual inefektif berhubungan dengan metode koping tidak efektif
Tujuan : koping individu efektif
Kriteria hasil : mendemonstrasikan penggunaan keterampilan/ metode koping efektif.
Intervensi :
1)        Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan.
Rasional :   mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi kronik, dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari.
2)        Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan kosentrasi, peka ransang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan untuk mengatasi/ menyelesaikan masalah.
Rasional :   manifestasi mekanisme koping maladaptif mungkin merupakan indikator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama tekanan darah diastolik.
3)        Bantu pasien untuk mengidentifikasi stresor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya.
Rasional :   pengenalan terhadap stresor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stresor.
4)        Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan
Rasional :   keterlibatan memberikan pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik.


5)        Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas/ tujuan hidup.
Rasional :   fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan. Etika kerja keras, kebutuhan untuk “kontrol” dan fokus keluar dapat mengarah pada kurang perhatian pada kebutuhan-kebutuhan personal.
6)        Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan, ketimbang membatalkan tujuan diri/keluarga.
Rasional :   perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistik untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.
4.             IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
          Pelaksanan tindakan pelaksanaan yang dilakukan pada klien disesuaikan dengan prioritas masalah yang telah disusun. Yang paling penting pelaksanaan mengacu pada intervensi yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan klien terpenuhi secara optimal.
5.             EVALUASI KEPERAWATAN
          Evaluasi pada klien dengan penyakit hipertensi adalah tidak adanya progresi kerusakan organ, aktifitas mandiri, kekuatan otot utuh, TTV dalam batas normal, menunjukan pola koping yang efektif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar